Oleh: satuteras | Oktober 9, 2014

Profil Kelurahan Tobimeita

Kelurahan Tobimeita merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Abeli dengan luas wilayah 440 Ha. Memiliki bentuk wilayah landai sampai berbukit dengan ketinggian dari permukaan laut ± 10 m. Terdiri dari 5 RW dan 11 RT.

Batas – batas Kelurahan Tobimeita :

  • Sebelah utara :    Kelurahan Anggalomelai
  • Sebelah timur :    Kelurahan Petoaha
  • Sebelah selatan :    Kecamatan Moramo (Konawe Selatan)
  • Sebelah barat :    Kelurahan Benua Nirae

Penduduknya berjumlah 2.005 jiwa, dengan Laki –laki berjumlah 1.026 jiwa dan perempuan berjumlah 979 jiwa. Terdiri dari 470 KK. Mata pencaharian penduduk Kel. Tobimeita adalah petani (mayoritas), buruh angkut, PNS, pedagang, bidang jasa, TNI/POLRI dan usaha produktif. Islam merupakan agama mayoritas di Kel. Tobimeita, selain itu terdapat pula Kristen Protestan, Kristen Katholik dan Hindu.

Dibidang kehutanan, Kel. Tobimeita memiliki 50 Ha hutan konservasi, 200 Ha hutan lindung dan 100 Ha hutan produksi. Lahan perkebunannya seluas 210 Ha dan lahan pertaniannya seluas 170 Ha. Komoditi perkebunan yang utama adalah jambu mete (± 100 Ha), lada (± 20 Ha), kelapa, kopi, kakao dan cengkeh. Potensi tambang galian C pasir batu ± 20 Ha.

Oleh: satuteras | Oktober 9, 2014

Hutan Sultra

HUTA

Hutan di Indonesia mempunyai peranan baik ditinjau dari aspek ekonomi, sosial budaya maupun ekologi. Namun demikian selain pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi nasional, tekanar terhadap sumberdaya hutan semakin meningkat. Hal ini terlihat dengan tingginya tingkat deforestasi.
Seperti di negara tropik lainnya, hutan di Indonesia memiliki nilal ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya bagi negara dan masyarakat setempat khususnya. Jika berbagal peranan itu tidak seimbang, yang satu lebih ditekankan daripada yang lainnya, maka keberlanjutan hutan akan semakin terancam. Hal ini terllhat dari selama 25 tahun terakhir ini, dimana eksploitasi sumberdaya dan tekanan pembangunan mempunyai pengaruh terhadap hutan.
Bagi masyarakat setempat, hutan bukan saja merupakan sumber pangan dan pendapatan, namun juga sumber pengetahuan dan budaya. Pembaglan keuntungan yang adil dari kegiatan kehutanan, baik komersial maupun konservasi/rehabilitasi adalah isu penting, mensingkronkan berbagai gagasan, pikiran, harapan dan kebutuhan masyarakat, menegakkan aturan agar tercapai keterpaduan kelompok.

Sumberdaya alam merupakan unsur lingkungan hidup yang mendukung kehidupan manusia . permasalahan pokok yang dihadapi sat ini adalah semakin menipisnya cadangan persediaan sumberdaya hutan serta semakin menurunnya kualitas lingkungan.
Kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan saat ini sangat erat kaitannya dengan manusia. Faktor kebutuhan eknomi serta cara pandang terhadap sumberdaya alam serta kondisi lingkungan yang baik menjadikan ancaman bagi keberlangsungan kehidupan manusia dimasa datang. Selain itu faktor dukugan regulasi dari pemerintah turut memberi andil terhadap kerusakan yang terjadi saat ini.
Kemiskinan, sumberdaya manusia yang rendah serta kerusakan lingkungan merupakan sebuah mata rantai yang berada di masyarakat indonesia. Lemahnya daya tawar masyarakat terhadap hak peneglolaan sumberdaya alam sakala besar menjadi gambaran bahwa sumberdaya alam adalah milik negara dan untuk mengelolanya nagara berhak melakukan apa saja. Bayangan investasi dari sektor pertambangan, kehutanan, perkebunan untuk mensejahterakan masyarakat kennyataannya telah banyk contoh di beberapa temapat justru menimbulkan konflik sosial karena ketidak mampuan masyarakat lokal bersaing dalam potensi sumberdaya manusia. Faktor lemahnya sumberdaya manusia serta penguasaan modal menjadi kunci dalam pengambilan peran pengelolaan SDA oleh masyarakat lokal, keterbatasan dalam informasi menambah nilai minus masyarakat sehingga pada akhirnya mereka hanya akan menjadi penonton di negri sendiri.
Penyelasaian masalah yang ada harus dititik beratkan pada kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat serta upaya melahirkan kebijakan yang adil dan aparat yang bersih ari korupsi. Masyarakat Indonesia yang agraris harusnya menjadi dasar dari gerakan, dalam artian semau aspek dalam upaya mengatasi persoalan harusnya berdasar pada karakter budaya lokal sehingga kegiatan yang dilakukan dapat mengakar hingga ditingkat bawah.
Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi yang Secara geografis terletak dibagian selatan garis khatulistiwa memanjang dari utara ke selatan antara 02°45′ -06°’15” LS dan membentang dari barat ke timur antara 120°45′ – 124°45’BT. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2011 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 2.277.020 jiwa. Di Provinsi ini,laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,84 %/tahun dengan kepadatan 60 jiwa/km2.

Oleh: satuteras | Oktober 6, 2014

Profil Desa Wolasi

Pada tahun 1963 Desa Wolasi mulai terbentuk dan dipimpin oleh Masinau sebagai Kepala Desa, ini berlangsung sampai tahun 1973. Sejak tahun 1974 Desa Wolasi resmi menjadi desa definitif. Terdiri atas 4 dusun dan 8 RT.

Desa Wolasi merupakan desa yang terletak pada dataran tinggi yang diapit oleh gunung dan perbukitan dengan luas wilayah 4.292,140 Ha, terdiri atas :

  • Hutan Lindung : 3.369,499 Ha
  • Hutan Produksi Tetap : 141,102 Ha
  • Hutan Produksi Terbatas : 420,518 Ha
  • Hutan Produksi Tidak Tetap : 361,031 Ha

Batas-batas wilayah Desa Wolasi :

  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Mata Wolasi
  • Sebelah timur berbatasan dengan hutan lindung dan Desa Ranowila
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Aoma
  • Sebelah barat berbatasan dengan hutan lidung

Jumlah penduduk Desa Wolasi adalah 684 jiwa dengan 163 KK. Jumlah laki-laki adalah 345 jiwa dan perempuan 338 jiwa. Mayoritas penduduk beragama Islam, dan ada pula Kristen. Mata pencaharian penduduknya adalah petani (mayoritas), pedagang, tukang batu, tukang kayu, PNS, penjahit, perangkat desa, pengrajin, sopir dan usaha jasa angkutan.

Sumber air bersih di Desa Wolasi berasal dari mata air sekitar hutan. Pemda Kab. Konawe Selatan membangun bak penampungan air berukuran sekitar 2 x 2 m dengan tinggi sekitar 1,5 m, dibangun sekitar tahun 2007 – 2008 beserta instalasi perpipaanya. Sumber air bersih ini tidak ada yang mengelola dan tidak ada iuran bulanan. Juga tidak ada agenda rutin untuk merawat atau membersihkan bak air dan perpipaan. Jika airnya bermasalah, salah satu atau beberapa warga atas inisiatif sendiri segera ke bak air dan perpipaan untuk dibersihkan atau diperbaiki. Sumber air bersih ini awalnya melayani seluruh warga Desa Wolasi, tetapi sekarang tinggal sebagian warga yang memanfaatkan air bersih ini. Selain mata air ini, Sungai Watumeeto dan Sungai Andimbura berpotensi dijadikan sumber air bersih karena tidak kering dimusim kemarau. Sungai Watumeeto berjarak ± 6 km dari desa dan Sungai Andimbura berjarak ± 7 km dari desa.

Pemilik chainsaw di Desa Wolasi berjumlah ± 20 orang dan aktif membalak kayu. Kayu yang dibalak berasal dari kebun masyarakat, namun mayoritas berasal dari kawasan hutan disekitar desa (sebelah barat desa). Jenis kayu yang diolah adalah jabon merah, undolia, kayu merah (meranti-merantian), dan terkadang biti dan silae. Umumnya kayu kelas II. Dalam 1 minggu pasenso (istilah untuk pembalak kayu) dapat memproduksi 3 kubik dan selama 1 bulan biasanya pasenso 3 kali masuk ke hutan. Dalam 1 tim pasenso terdiri dari 4 – 5 orang. Biasanya yang mengoperasikan chainsaw adalah 1 atau 2 orang bergantian. Sisanya adalah yang mengangkut kayu menuju lokasi-lokasi yang bisa dijangkau oleh truk. Jalur pengangkutan kayu dari lokasi penebangan melalui sungai atau kali. Konsumen adalah warga setempat, namum lebih banyak berasal dari Kota Kendari, umumnya pemilik bangsal-bangsal kayu. Harga berkisar Rp. 700.000/kubik dengan ukuran kayu 10 cm x 25 cm, panjang 4 m. Terkadang kayu dibalak sesuai pesanan, namun sering pula walaupun tidak ada pemesan, kayu dibalak saja dan diangkut ke lokasi-lokasi yang mudah diakses dan pembeli selalu siap menadah. Mayoritas warga Desa Wolasi adalah pembalak dan pemikul/pengangkut kayu rimba. Area kerja meliputi hutan disebelah barat dan timur desa.

Sawmill di Desa Wolasi adalah milik seorang Ambon bernama Pak Oktovianus dengan pekerja berjumlah 3 orang. Bahan baku utama sawmill ini adalah kayu jati yang berasal dari kebun masyarakat di desa-desa Kecamatan Wolasi. Produknya berupa fluring atau lembar seri. Produknya dikirim ke Surabaya, biasa dijemput mobil kontainer. Biasa juga mengolah kayu jenis lain milik warga dengan produk sesuai pesanan.

Program-program Kehutanan di Desa Wolasi :

Gerhan I tahun 1994 dengan jenis tanaman Jati, tidak berhasil.

Gerhan II dengan jenis tanaman biti dan mahoni, tidak berhasil.

Gerhan III seluas 150 Ha dengan jenis tanaman biti dan mahoni, tidak berhasil. Pelaksanaan kegiatan ini oleh pihak ketiga.

RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) seluas 100 Ha pada tahun 2012 – 2013 dengan jenis tanaman mahoni dan trembesi, masih ada tanaman yang tumbuh.

Lokasi Gerhan I dan II serta RHL berada di lahan  warga yang sudah seperti hutan karena sudah lama tidak diolah. Penyebab tidak berhasilnya Gerhan karena ditanam dilokasi dengan vegetasi yang cukup rapat, sementara jenis tanaman yang ditanam adalah jenis-jenis yang membutuhkan cahaya matahari. Selain itu, disebabkan pula oleh rebahan pohon dari aktivitas illegal loging.

Potensi sawah di Desa Wolasi sekitar ± 200 Ha. Masyarakat setempat pernah bersawah di tahun 1970-an – 1990-an. Pernah pula dibuat bendungan sebanyak 2 kali oleh Pemda Kab. Kendari dan Pemda Konawe namun telah rusak. Sementara ini Pemerintah Desa mengusulkan pembangunan bendungan baru ke Pemda setempat melalui Musrembang 2012 – 20143. Lahan yang dulunya lokasi persawahan sekarang sebagian telah ditanami dengan jati (mayoritas), kakao, jeruk dan rambutan, namun kurang terawat. Sebagian lainnya menjadi lahan tidur. Ada lahan yang ditanami kelapa sawit, luasnya kurang dari 1 Ha.

Oleh: satuteras | Oktober 6, 2014

Desa Anaupe Kec. Wolasi Kab, Kosel

Aunupe1

Desa Aunupe adalah pemekaran dari Desa Aoma yang resmi dimekarkan pada tanggal 21 April 2003 dan definitif pada tanggal 31 Agustus 2009. Nama Aunupe sendiri diambil dari nama sungai yang melintas dalam desa. Pada awalnya warga Desa Aunupe adalah warga eks transmigrasi dari Maluku pada tahun 1997 yang berjumlah 15 KK dan penduduk pribumi sebanyak 10 KK yang merupakan bagian dari Desa Aoma (Dusun IV Bambu Raya).

Desa Aunupe terletak ± 30 km dari Ibukota Kabupaten Konawe Selatan dan ± 6 km dari Ibukota Kecamatan Wolasi. Desa Aunupe memiliki luas wilayah 5,87 km2 dan terdiri atas 3 dusun.

Batas-batas Desa Aunupe :

  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Wolasi
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Amoito Jaya
  • Sebelah timur berbatasan dengan Desa Sawa, Kec. Moramo
  • Sebelah barat berbatasan dengan Desa Ambesinauwi dan Desa Ranowila

Kondisi iklim terdiri atas musim kemarau, musim hujan dan pancaraoba. Musim kemarau biasanya antara bulan Juli – November, musim hujan antara bulan Januari – April, sedang pancaroba terjadi antara bulan Mei – Juni.

Penduduknya berjumlah 407 jiwa, laki-laki berjumlah 210 jiwa dan perempuan berjumlah 197 jiwa. Terdiri dari 116 KK. Seluruh warga Desa Aunupe beragama Islam. Mata pencaharian penduduknya adalah petani (mayoritas), buruh tani, pedagang, tukang kayu, tukang batu dan perangkat desa.

Penggunaan lahan Desa Aunupe meliputi lahan perkebunan 155 Ha, persawahan 50 Ha, pemukiman 2.5 Ha dan pekarangan 5 Ha. Komoditi perkebunanannya berupa jeruk, kakao dan merica. Komoditi pertaniannya adalah padi sawah dan padi ladang. Sedang disektor kehutanan umumnya masyarakat menanam jati.

Kategori

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai