Pada tahun 1963 Desa Wolasi mulai terbentuk dan dipimpin oleh Masinau sebagai Kepala Desa, ini berlangsung sampai tahun 1973. Sejak tahun 1974 Desa Wolasi resmi menjadi desa definitif. Terdiri atas 4 dusun dan 8 RT.
Desa Wolasi merupakan desa yang terletak pada dataran tinggi yang diapit oleh gunung dan perbukitan dengan luas wilayah 4.292,140 Ha, terdiri atas :
- Hutan Lindung : 3.369,499 Ha
- Hutan Produksi Tetap : 141,102 Ha
- Hutan Produksi Terbatas : 420,518 Ha
- Hutan Produksi Tidak Tetap : 361,031 Ha
Batas-batas wilayah Desa Wolasi :
- Sebelah utara berbatasan dengan Desa Mata Wolasi
- Sebelah timur berbatasan dengan hutan lindung dan Desa Ranowila
- Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Aoma
- Sebelah barat berbatasan dengan hutan lidung
Jumlah penduduk Desa Wolasi adalah 684 jiwa dengan 163 KK. Jumlah laki-laki adalah 345 jiwa dan perempuan 338 jiwa. Mayoritas penduduk beragama Islam, dan ada pula Kristen. Mata pencaharian penduduknya adalah petani (mayoritas), pedagang, tukang batu, tukang kayu, PNS, penjahit, perangkat desa, pengrajin, sopir dan usaha jasa angkutan.
Sumber air bersih di Desa Wolasi berasal dari mata air sekitar hutan. Pemda Kab. Konawe Selatan membangun bak penampungan air berukuran sekitar 2 x 2 m dengan tinggi sekitar 1,5 m, dibangun sekitar tahun 2007 – 2008 beserta instalasi perpipaanya. Sumber air bersih ini tidak ada yang mengelola dan tidak ada iuran bulanan. Juga tidak ada agenda rutin untuk merawat atau membersihkan bak air dan perpipaan. Jika airnya bermasalah, salah satu atau beberapa warga atas inisiatif sendiri segera ke bak air dan perpipaan untuk dibersihkan atau diperbaiki. Sumber air bersih ini awalnya melayani seluruh warga Desa Wolasi, tetapi sekarang tinggal sebagian warga yang memanfaatkan air bersih ini. Selain mata air ini, Sungai Watumeeto dan Sungai Andimbura berpotensi dijadikan sumber air bersih karena tidak kering dimusim kemarau. Sungai Watumeeto berjarak ± 6 km dari desa dan Sungai Andimbura berjarak ± 7 km dari desa.
Pemilik chainsaw di Desa Wolasi berjumlah ± 20 orang dan aktif membalak kayu. Kayu yang dibalak berasal dari kebun masyarakat, namun mayoritas berasal dari kawasan hutan disekitar desa (sebelah barat desa). Jenis kayu yang diolah adalah jabon merah, undolia, kayu merah (meranti-merantian), dan terkadang biti dan silae. Umumnya kayu kelas II. Dalam 1 minggu pasenso (istilah untuk pembalak kayu) dapat memproduksi 3 kubik dan selama 1 bulan biasanya pasenso 3 kali masuk ke hutan. Dalam 1 tim pasenso terdiri dari 4 – 5 orang. Biasanya yang mengoperasikan chainsaw adalah 1 atau 2 orang bergantian. Sisanya adalah yang mengangkut kayu menuju lokasi-lokasi yang bisa dijangkau oleh truk. Jalur pengangkutan kayu dari lokasi penebangan melalui sungai atau kali. Konsumen adalah warga setempat, namum lebih banyak berasal dari Kota Kendari, umumnya pemilik bangsal-bangsal kayu. Harga berkisar Rp. 700.000/kubik dengan ukuran kayu 10 cm x 25 cm, panjang 4 m. Terkadang kayu dibalak sesuai pesanan, namun sering pula walaupun tidak ada pemesan, kayu dibalak saja dan diangkut ke lokasi-lokasi yang mudah diakses dan pembeli selalu siap menadah. Mayoritas warga Desa Wolasi adalah pembalak dan pemikul/pengangkut kayu rimba. Area kerja meliputi hutan disebelah barat dan timur desa.
Sawmill di Desa Wolasi adalah milik seorang Ambon bernama Pak Oktovianus dengan pekerja berjumlah 3 orang. Bahan baku utama sawmill ini adalah kayu jati yang berasal dari kebun masyarakat di desa-desa Kecamatan Wolasi. Produknya berupa fluring atau lembar seri. Produknya dikirim ke Surabaya, biasa dijemput mobil kontainer. Biasa juga mengolah kayu jenis lain milik warga dengan produk sesuai pesanan.
Program-program Kehutanan di Desa Wolasi :
Gerhan I tahun 1994 dengan jenis tanaman Jati, tidak berhasil.
Gerhan II dengan jenis tanaman biti dan mahoni, tidak berhasil.
Gerhan III seluas 150 Ha dengan jenis tanaman biti dan mahoni, tidak berhasil. Pelaksanaan kegiatan ini oleh pihak ketiga.
RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) seluas 100 Ha pada tahun 2012 – 2013 dengan jenis tanaman mahoni dan trembesi, masih ada tanaman yang tumbuh.
Lokasi Gerhan I dan II serta RHL berada di lahan warga yang sudah seperti hutan karena sudah lama tidak diolah. Penyebab tidak berhasilnya Gerhan karena ditanam dilokasi dengan vegetasi yang cukup rapat, sementara jenis tanaman yang ditanam adalah jenis-jenis yang membutuhkan cahaya matahari. Selain itu, disebabkan pula oleh rebahan pohon dari aktivitas illegal loging.
Potensi sawah di Desa Wolasi sekitar ± 200 Ha. Masyarakat setempat pernah bersawah di tahun 1970-an – 1990-an. Pernah pula dibuat bendungan sebanyak 2 kali oleh Pemda Kab. Kendari dan Pemda Konawe namun telah rusak. Sementara ini Pemerintah Desa mengusulkan pembangunan bendungan baru ke Pemda setempat melalui Musrembang 2012 – 20143. Lahan yang dulunya lokasi persawahan sekarang sebagian telah ditanami dengan jati (mayoritas), kakao, jeruk dan rambutan, namun kurang terawat. Sebagian lainnya menjadi lahan tidur. Ada lahan yang ditanami kelapa sawit, luasnya kurang dari 1 Ha.